Dibalik Runtuhnya Ritel-Ritel Besar

Fenomena gugurnya sejumlah toko seperti ritel 7-eleven (sevel), Lotus, Debenhams, hingga GAP baru-baru ini sering dikaitkan dengan bertumbuhnya industri online. Apa iya ?

Beberapa sumber mengatakan bahwa sumbangan dari industri online masih terbilang rendah. Dari data, sumbangan dari toko online atau e-commerce hanya sebesar 0,3%, sedangkan tahun ini diprediksi sekitar 3%. Artinya masih terlalu kecil, dan pengaruhnya belum terlalu kuat.

Lalu, apa yang lebih logis untuk menerangkan fenomena ini ? Banyak juga sumber mengatakan bahwa kejadian ini tak lebih dari adanya kelesuan ekonomi yang sedang berlangsung di Indonesia. Hal ini terindikasi dari penurunan daya beli masyarakat yang juga banyak menjadi pembicaraan hangat akhir-akhir ini.

Perlambatan konsumsi rumah tangga dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) telah terjadi. Dari data BPS pada kuartal III-2017, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,93%. Lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi rumah tangga pada kuartal I-2017 yang sebesar 4,94% dan pada kuartal II tahun ini yang sebesar 4,95%. Bila dibandingkan tiga tahun lalu bahkan jauh lebih rendah. Konsumsi rumah tangga pada 2011-2013 bisa tumbuh sekitar 5,3-5,5%.

Indikasi penurunan konsumsi masyarakat ini banyak dipengaruhi oleh kelompok masyarakat berpenghasilan Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Masyarakat dari kelompok tersebut sangat merasakan dampak dari penurunan daya beli tersebut.

Terjadi perlambatan daya beli ambatan khususnya di masyarakat 40% terbawah. Kalau kita bisa klasifikasikan level masyarakat berdasarkan kemampuan pengeluarannya ada 20% tertinggi, 40% menengah, 40% terbawah.

Secara alamiah, yang terkena dampak langsung adalah 40% ke bawah, akibat pencabutan subsidi. Walaupun kemampuan belanjanya tumbuh tapi relative kecil dari periode sebelumnya. Artinya, terjadi pelambatan, atau melambat, dimana daya beli tumbuh lebih rendah dari periode sebelumnya.

Apa gerangan yang menyebabkan daya beli mereka turun ? Barangkali, salah satunya karena adanya tekanan domestik, seperti meningkatnya harga-harga yang dapat diatur oleh pemerintah. Salah satu contohnya ialah tarif dasar listrik (TDL), di mana pemerintah telah mencabut subsidi tarif dasar listrik untuk pelanggan 900 Volt Ampere (VA) yang juga banyak dimanfaatkan kelompok tersebut.

Selain itu, salah satu indikasi adalah nilai riil dari upah buruh tani yang tidak lebih baik dari tahun lalu. Jadi meskipun inflasi rendah, namun kenaikan TDL serta kenaikan biaya lainnya seperti administrasi pengurusan surat kendaraan bermotor jadi sumber pelemahan.

Pola konsumsi masyarakat, saat ini juga terjadi perubahan. Konsumsi untuk hiburan menjadi meningkat yang ditunjukkan dengan melambatnya konsumsi untuk makanan. Ditambah lagi dengan adanya penetrasi belanja online, walau pun relatif masih kecil. Namun pertumbuhan online terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan transaksi online, tidak lepas dari kenyataan bertumbuhnya penjualan smartphone. Tingginya konsumsi smartphone memberi peluang bagi pengembangan aplikasi belanja online. Inilah makanya konsumsi online bertumbuh.

Namun, banyaknya toko-toko ritel yang tutup lebih karena mereka tak memiliki perhitungan matang tanpa melihat studi bisnis kelayakannya. Sehingga mereka tidak bisa memprediksi prospek keuntungan jangka panjang. Masyarakat juga dinilai lebih banyak menahan belanja, khususnya golongan menengah ke atas.

Jadi ada faktor itu juga, seperti mirip-mirip Sevel. Masyarakat menengah ke atas juga wait and see dulu. Makanya kalau kita lihat jumlah tabungan deposito meningkat, spending jadi berkurang, itu terlihat dari dana pihak ketiga (DPK) secara year on year meningkat pada dua kuartal terakhir dibanding tahun 2016.

Pada akhirnya, pemerintah perlu berhati-hati dalam mengambil setiap kebijakan untuk bisa memperbaiki penyakit ekonomi ini. Jika salah mendiagnosa maka kebijakan yang diambil tidak tepat sasaran. Pemerintah harus paham, apa yang menjadi penyebabnya. (smm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *